Bagaimana Sebenarnya Cara Perencanaan Keuangan yang Tepat?

Perencanaan Keuangan – Sebuah ilmu dasar yang penting untuk diketahui, juga kadang luput untuk dipahami sebagian orang. Perencanaan keuangan baik untuk pribadi, korporasi, maupun keluarga, sebenarnya hanya berkutat di 5 hal vital yang akan dijelaskan selanjutnya. Jika ini semua berjalan dengan baik, dapat dipastikan kesejahteraanmu juga terjamin.

Perencanaan Keuangan yang Baik

Pada beberapa seminar atau buku, seringkali diperkenalkan istilah the financial pyramid. Pada teorinya, pengelolaan keuangan harus dilakukan dan diperhatikan berjenjang: berdasar dari bawah / fondasi (yang terpenting) baru kemudian perlahan ke atas.

Contoh Financial Pyramid oleh moneyunder30.com

Intinya, untuk memastikan keuanganmu baik, kamu harus memastikan fondasi keuanganmu sehat dan terpenuhi baru kemudian sedikit demi sedikit “naik tingkat”. Redaksional, bahasa, maupun tingkatannya bisa berbeda-beda di tiap artikel maupun seminar. Namun pada intinya, berikut urutan dari bawah (fondasi) hingga keatas.

1. Dasar: Menjaga Cashflow Dengan Baik

Dalam skala pribadi, keluarga, hingga korporasi, hal pertama yang perlu dilakukan pertama kali untuk mengelola uang dengan baik adalah menjaga cashflow. Ini dua poin penting untuk mengecek kesehatan cashflowmu: (1) pastikan setiap bulan kamu memiliki discretionary income, dan (2) jika kamu harus berhutang untuk kebutuhan bulananmu, jelas kesehatan cashflowmu diragukan.

Discretionary income adalah jumlah pendapatan baik individu, keluarga, maupun korporasi yang tersisa untuk dibelanjakan, diinvestasikan, atau ditabung setelah membayar pajak dan membayar kebutuhan pribadi seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Tak jarang, credit analyst menggunakan istilah disposable income untuk pengertian yang sama – walaupun menurutku dua istilah ini jauh berbeda – karena ada perbedaan implikasi pengertian keduanya yang berkaitan dengan makroekonomi. Balik ke topik, bahasa awamnya, discretionary income adalah “uang yang bisa ditabung”.

Discretionary income 10% dari pendapatan bulanan adalah minimum dan > 30% adalah ideal untuk cashflow yang sehat. Berikut tips taktis untuk menjaga cashflow:

  1. Jika kamu tidak memiliki uang di rekening 10x dari harga barang yang ingin kamu beli, jangan beli.
  2. Cicilan bulanmu akan selalu menggerus discretionary income. Artinya, semakin besar cicilan bulananmu, semakin kecil jumlah yang bisa kamu tabung. Jaga cicilan bulananmu maksimal memakan 90% discretionary income-mu. Kita akan bahas tips melakukan pinjaman atau berhutang di lain waktu.
  3. Ketika melakukan budgeting, daripada mengunci total biaya maksimum untuk suatu pengeluaran, membatasi frekuensi pembelian terkadang lebih efektif.

Sebagai kesimpulan, aktivitas kunci untuk menjaga cashflow adalah: (1) Fokus mengoptimalkan pemasukan dan pengeluaran, (2) Mengurangi hutang, dan (3) Menjaga cashflow stabil tiap bulan.

2. Mitigasi Resiko

Cashflowmu yang stabil bisa saja gonjang-ganjing jika ada sesuatu yang diluar prediksimu. Kalau kamu punya gaji 10 juta per bulan dan kamu harus operasi dengan biaya 300 juta, jelas discretionary income kamu tidak dapat menutupi biaya operasi.

Aktivitas kunci untuk memitigasi resiko adalah: (1) Membuat tabungan darurat (emergency savings), (2) Mulai menabung, dan (3) Proteksi diri dengan asuransi.

Pertanyaan paling awalnya bukan berapa kali dari pengeluaran atau pendapatan tabungan darurat harus disiapkan, atau asuransi seperti apa yang kamu butuhkan. Namun lebih dasar, pertanyaannya adalah “Apa saja resiko yang mungkin?”. Ini setidaknya pertanyaan dasar yang perlu kamu renungkan, yang dari sini dapat membentuk profil resiko keuanganmu untuk menentukan jumlah tabungan atau asuransimu

  1. Apakah kamu tinggal di negara dengan keadaan politik dan keuangan yang cukup stabil di masa kini dan prospeknya di masa depan?
  2. Apakah kamu laki-laki atau perempuan? Let’s get real, perempuan bisa terkena jenis penyakit kritis lebih banyak dibanding laki-laki.
  3. Apakah kamu memiliki tanggungan? Bagaimana profil resiko mereka? Tanggungan bukan hanya anak, bisa juga orangtuamu yang sudah sepuh atau keluargamu yang non-produktif.
  4. Bagaimana keadaan job security dirimu?
  5. Apakah kamu memiliki cita-cita jangka pendek yang membuat keuanganmu suffer?

3. Perencanaan Keuangan Investasi

Disaat inilah kamu baru dapat memulai investasi – ketika cashflowmu sudah terjaga dan resiko sudah termitigasi dengan baik. Aktivitas kunci dalam tahap investasi adalah: (1) Memulai portfolio investasimu, (2) Menabung untuk pensiun, dan (3) Mengoptimalisasi aset untuk pajak yang efisien.

Kamu bisa mulai mengeksplor instrumen investasi saham, reksadana, bonds, dan lain sebagainya. Terkait investasi, kita bisa bahas dalam beberapa artikel terpisah saking banyaknya pembahasannya.

Tapi pada intinya, ada empat hal yang harus diperhitungkan dalam memilih instrumen investasi:

  1. Resiko dari instrumen investasi
  2. Tingkat likuidasi instrumen investasi
  3. Margin keuntungan dalam periode teretentu
  4. Kehalalan sistem atau cara kerja instrumen (untuk muslim)

4. Menjaga Harta

Ditahap ini, apa yang kamu lakukan tidak lagi meningkatkan kesejahteraanmu – kamu sudah sejahtera – tapi untuk menjaga kesejahteraan atau hartamu. Aktivitas kunci dalam tahap menjaga harta adalah: (1) Menikmati kebebasan finansial, (2) Mengubah tabungan pensiun menjadi pendapatan, dan (3) Memaksimalkan pensiunmu.

Mungkin kamu bertanya: apa maksudnya mengubah tabungan pensiun menjadi pendapatan? Di titik ini, kamu bisa meraup keuntungan dari instrumen investasimu dan menghidupi kebutuhan harianmu.

Kita ambil contoh mudah. Kamu memiliki tabungan pensiun sebesar 2 milyar, kemudian dana tersebut disimpan di deposito dengan bunga 4% per annum untuk 1 bulan. Asumsikanlah kasar 4%/12 adalah bunga per bulan alias sekitar 0.33% per bulan. Maka, kamu bisa mendapatkan 6.6 juta per bulan yang bisa dijadikan pendapatan bulananmu.

5. Meninggalkan Warisan

Ini adalah tingkat tertinggi dari perencanaan keuangan. Aktivitas kunci dalam tahap meninggalkan warisan ini adalah: (1) Perencanaan dan pengelolaan aset, (2) Perencanaan dan pengelolaan amal, dan (3) Perencanaan dan pengelolaan penerus bisnis.

Kesimpulan Perencanaan Keuangan

Perencanaan keuangan memang bukan hal yang instan – perlu langkah-langkah strategis dan kesabaran untuk menjalaninya. Semoga bermanfaat, see you on top!

Tinggalkan Balasan