Cara Fintech Verifikasi Datamu (dan Mungkin Kamu Bisa Mencuranginya)

Proses KYC fintechFinancial Technology atau Fintech sedang berkembang di Indonesia. Fintech menjanjikan kemudahan dan kecepatan proses.

Fintech ada berbagai sektor, namun mari kita fokus dengan paling ramai dibicarakan. Apa itu? yaitu Pinjaman Online (Pinjol). Kecepatan dan kemudahan proses ini kadang membuat kita bertanya: bagaimana caranya fintech dapat memverifikasi bahwa data yang kita masukkan adalah benar?

Nggak mungkin dong kalau kita masukkan alamat rumah, dengan waktu approval yang singkat (bisa hanya beberapa jam), pihak fintech akan mensurvey rumahmu?

Proses verifikasi dan memastikan data nasabah adalah benar lebih dikenal dengan istilah proses Know-Your-Customer atau KYC. Pengembangan terbaru dari istilah ini adalah Customer Due Diligent atau CDD.

Di artikel ini, kita akan membahas bagaimana caranya fintech seperti pinjol memverifikasi datamu dan celah yang mungkin ada pada prosesnya.

Disclaimer: tujuan artikel ini serta-merta hanya untuk pembelajaran bagi konsumen fintech agar menghindari hal-hal yang bersifat fraud atau curang, juga pembelajaran bagi pelaku fintech untuk memitigasi resiko atas proses KYC mereka. Artikel ini tidak terafiliasi dengan fintech manapun, maupun fintech yang disebutkan di artikel ini merupakan contoh bukan sebagai upaya sponsor. Harap bijak menggunakan informasi dalam artikel ini dan tidak dijadikan rujukan.

Proses KYC Fintech

1. Proses KYC Fintech Dengan Survey Lapangan

Beberapa pinjol mungkin memverifikasi dengan survey lapangan – dalam skala tertentu. Misalnya, mereka hanya melakukan survey lapangan bagi nasabah terkategori high-risk, atau nasabah dengan domisili dan alamat KTP berbeda.

Bisa juga, mereka membalik pendekatan survey lapangan ke setelah approval. Apa gunanya disurvey jika nasabah curang sudah disetujui? Mungkin penting untuk perhitungan biaya provisi atau strategi collection mereka. Kita akan bahas poin ini lain kali. Intinya, hal ini untuk memastikan berapa besar kerugian yang perlu mereka persiapkan.

Survey lapangan bisa dibilang lebih sulit, mahal, dan lebih prudent terhadap resiko kecurangan (fraud). Karena agen pinjol bisa memveerifikasi langsung data ke individu bersangkutan atau pihak-pihak disekitarnya yang dipercaya seperti ketua RT atau RW.

2. Proses KYC Fintech Dengan Verifikasi Dari Website Pemerintah

Jika kamu punya data pendaftaran dan data KTP, bagaimana cara termudah, termurah, dan valid untuk memastikan datamu benar? Lewat website pemerintah.

Misal dalam website KPU. Kamu hanya perlu mengisikan nama dan nomor KTP untuk mendapatkan informasi biodata. KPU telah mempersulit cara verifikasi website terakhir dengan nama, KTP, dan tanggal lahir. Tetap saja, pinjol memperoleh informasi lebih banyak ketimbang informasi verifikasi yang ada di website KPU.

Cara ini adalah cara paling murah dan powerful. Namun tidak menghindarkan resiko bahwa nasabah dapat mencuri identitas orang lain untuk pendaftaran di pinjol.

3. Cross-validation Data KTP dan Data Pendaftaran

Fintech dapat melakukan validasi silang antara data yang ada di KTP dengan data yang ada di pendaftaran. Biasanya, fintech bisa saja memperkuat metode verifikasinya dengan live video chat untuk memastikan orang yang terdaftar di KTP adalah orang yang mendaftarkannya. Video pada live chat dan foto di KTP akan dibandingkan secara manual atau dengan bantuan machine-learning.

Dengan metode ini, resiko nasabah mencuri identitas orang lain dapat dikurangi – namun tidak dapat dihindarkan. Mengapa? Bisa saja dalam kasus ekstrim, foto KTP dapat dipalsukan.

4. Cross-validation Data KTP dan Pendaftaran ke Data Alternatif

Cara ini mungkin cara yang paling efektif dan efisien untuk memverifikasi keabsahan data nasabah. Fintech dapat melakukan validasi silang terhadap data-data alternatif seperti

  • Data Verifikasi Biometrik
  • Data Media Sosial
  • Data Seluler
  • Data Kependudukan di Dukcapil
  • Data Perpajakan

Jika fintech memiliki akses ke data-data ini, sebenarnya mereka dapat memastikan resiko nasabah dapat diminimalisir dengan harga yang murah setidaknya dibandingkan survey lapangan. Tidak semurah dengan verifikasi via website pemerintah, namun lebih efektif karena verifikasi didasarkan pada data primer.

Kesimpulan

Fintech dapat menggunakan cara-cara ini untuk memverifikasi data nasabah. Cara yang pinjol lakukan ada plus minusnya. Tapi yang pasti, fintech memberikan gebrakan baru nan disruptif atas proses KYC yang umum selama ini.

Tinggalkan Balasan